DINASTI ABBASIYAH
Makalah
Disusun guna memenuhi tugas mata kuliah
Sejarah Peradaban Islam
Dosen Pengampu : Anthin Latifah, M.ag.
Disusun
oleh:
Nihayatul Ifadhloh (122111103)
Nur Halimah (122111106)
Nur Laily Khoiriyah (122111)
HUKUM PERDATA ISLAM
FAKULTAS SYARI’AH
UNIVERSITAS ISLAM NEGERI (UIN)
WALISONGO
SEMARANG

Dinasti Abbasiyah
I.
Pendahuluan
Setelah kemunduran
pemerintahan bani umayyah pada tahun 132 H/749 M yang dikalahkan oleh pasukan
bani abbasiyah, maka lahirlah pemerintahan baru yaitu pemerintahan bani
abbasiyah. Pemerintahan bani abbasiyah dinisbatkan kepada al abbas, paman
rasulullah SAW. Sementara itu khalifah pertama dari pemerintahan ini adlah
abdullah as-saffah bin muhammad bin ali bin abdullah bin abbas bin abdul
mutthalib. Berdirinya pemerintahan ini dianggap sebagai kemenangnan pemikiran
yang pernah dikumandangkan oleh bani hasyim (alawiyun) setelah meninggalnya
rasulullah.[1]
Dalam pemerintahan bani
abbasiyah terdapat bebrapa pendapat tentang penggolongan periode pemerintahan,
ada yang menggolongkan pemerihtahan abbasiyah kedalam dua periode. Namun dalam
literatur lain periode pemerimtahan bani abbasiyah di bagi kedalam lima
periode. Pembagian tersebut hanya berbeda dari pengelompokan tahunya, terlepas
dari perbedaan pembagian periode pemerintahan, pemerintahan bani abbasiyah
terkenal dengan kemajuan yang sangat pesat dalam berbagai bidang, khususnya
bidang keilmuan, mulai dari ilmu tafsir, hadits, tasawuf, bahasa, kedokteran
dll. Kemudian juga nama-nama ilmuawan muslim yang mulai di kenal dunia, seprti
ibnu sina yang dikenal sebagai ahli ilmu kedokteran.
Dalam tulisan ini
pemaklah akan membhas tentang bagaimana awal mula berdirinya daulah bani
abbasiyah, kemudian kemajuan-kemajuan yang ada pada masa itu, hingga ahirnya
bagaimana tumbangnya pemerintahan bani abbasiyah.
II.
Rumusan
Masalah
Adapun rumusan permasalahan dari
pembahasan makalah ini adalah :
A.
Awal Mula Islam
Dinasti Abbasiyah !
B.
Perkembangan Dan
Kemajuan Islam Masa Dinasti Abbasiyah !
C.
Kemunduran Dan
Kehancuran Islam Masa Dinasti Abbasiyah
!
III.
Pembahasan
A.
Awal
Mula Islam Dinasti Abbasiyah
Abbbas
ibnu abdul muthalib dari namanya disitu dinasti abbasiyah disandarkan. Terdapat
tiga tempat yang merupakan kunci pokok berdirinya dinasti abbasiyah, yaitu
humaimah, kufah dan kurasan. humaimah
yang merupakan tempat yang tentram dimana keluarga bani hasyim baik kalangan
ali maupun abbas yang salah seorang pemimpinya bernamaal imam muhammad ibn ali
yang meletakkan dasar-dasar bagi berdirimya daulah abasiyah. Kemudian
disebarkan di kuffah, sedangkan tempat pergolakan di lakukan di khurrasan yang
jauh dari pengamaatan bani umayyah. Propaganda abbasiyah di lakukan dengan dua
tahap, yakni dengan tahap yang sangat rahasia tanpa melibatkan pasukan perang.
Yang kedua, menggabungkan para pengikut abu muslim al khurrasani dengan
pengikut abbasiyah yang mana sama-sama melakuakn perlawanan terhadap
pemeriantahan muawiyah. Pimpinan muawiyah saat itu yang ada di kuffah, yazid
ibnu umar ibnu hubairah, ditaklukan oleh abbasiyah. Abdullah ibnu ali salah
seorang paman abu al abbas diperintahkan untuk mengejar khalifah muawiyah
terahir, yaitu marwan ibnu muhammad bersama pasukanya yang melarikan diri
sampai ke fustat di mesir, dan ahirnya terkalahkan dan terbunuh di busir pada
tahun 132 H/750 M.[2]
Abdullah
as safffah bersama-sama dengan pengikutnya mendeklarasikan pemerintahanya di
masjid kuffah dan dia di baiat pada bulan rabiul awal tahun 132 H/749 M. Dengan
demikian maka berdirilah daulah abbasiyah yang dipimpin oleh khalifah
pertamanya, abu abbas as saffah yang berpusat pertamakalinya di kufah. Setelah
mendeklarasikan pemerintahanya, suffah kemudian memberangkatkan pasukanya untuk
memerangi khalifah terahir bani umayyah, dan dimenangkan oleh bani abbas.
dengan demikian semua wilayah pemerintahan bani umayyah berada dibawah
pemerintahan bani abbasiyah kecuali andalusia.[3]
Pemerimtahan
bani abbasiyah dinisbathkan kepada al abbas, paman rasulullah SAW. Silsilah
khalifah pertamanya adalah abdullah as saffah bin muhammad bin ali bin abdullah
bin abbasbin abdul mutthalib. Berdirinyaa pemerintahan ini merupakan kemenangan
dengan salah satu pemikiran yang pernah dikumandangkan oleh bani hasyim bahwa
yang berhak memimpin adlaah keturunan nabi muhammad SAW. Namun pemikiran ini
salah, setelah melihat pada awal islam setelah rasulullah, pemikiran islam yang
lurus dan benarlah yang terjad saat itu, bahwa kepemimpinan adalah hak semua
kaum muslimin yang mampu mneyandang amanat.[4]
Kekuasaan
dinasti abbasiyah berlangsung dalam rentang waktu yang panjang, yaitu drai
tahun 132 H/750 M-656 H/1258 M. Selama masa dinasti berkuasa dengan pemimpin
yang berubah-rubah,maka sisitem pemerintahan pun yang digunakan berbeda-beda
seuai dengan perunahan politik, sosial dan budaya. Pada mulanya ibu kota
negaranya adalah al-hasyimiyah, dekat kufah. Namun, untuk lebih memantapkan dan
menjaga stabilitas negara yang baru berdiri itu , khalifah al-masnyur
memindahkan ibukota negara ke kota yang baru dibangunya, baghdad dekat bekas
ibukota persia, ctesiphon, tahun 762 M. Dengan demikian, pusat pemerintahan
bani abbas berada ditengah-tengah bangsa persia.[5]
Para khalifah
Bani Abbasiyah sebanyak 37 orang, sebagaimana tercantum di bawah ini:[6]
1
|
Abul Abbas as-Saffah
|
132-136 H / 748-754 M
|
2
|
Abu Ja’far al-Mansur
|
136-158 H / 754-775 M
|
3
|
Abu Abdullah Muhammad al-Mahdi
|
158-169 H / 775-785 M
|
4
|
Abu Muhammad Musa al-Hadi
|
169-170 H / 785-786 M
|
5
|
Abu Ja’far Harun ar-Rasyid
|
170-193 H / 786-809 M
|
6
|
Abu Musa Muhammad al-Amin
|
193-198 H / 809-813 M
|
7
|
Abu Ja’far Abdullah al-Makmun
|
198-218 H / 813-833 M
|
|
(Ibrahim ibn
al-Mahdi di Bagdad)
|
201-203 H /
817-819 M
|
8
|
Abu Ishaq Muhammad al-Mu’tasim
|
218-227 H / 833-842 M
|
9
|
Abu Ja’far Harun al-Wasiq
|
227-232 H / 842-847 M
|
10
|
Abu Fadl Ja’far al-Mutawakkil
|
232-247 H / 847-861 M
|
11
|
Abu Ja’far Muhammad al-Muntasir
|
247-248 H / 861-862 M
|
12
|
Abul Abbas Ahmad al-Musta’in
|
248-252 H / 862-866 M
|
13
|
Abu Abdullah Muhammad al-Mu’taz
|
252-255 H / 866-869 M
|
14
|
Abu Ishaq Muhammad al-Muhtadi
|
255-256 H / 869-870 M
|
15
|
Abul Abbas Ahmad al-Mu’tamid
|
256-279 H / 870-892 M
|
16
|
Abul Abbas Ahhmad al-Mu’tadid
|
279-289 H / 892-902 M
|
17
|
Abu Muhammad Ali al-Muktafi
|
289-295 H / 902-905 M
|
18
|
Abu Fadl Ja’far al-Muqtadir
|
295-320 H / 905-932 M
|
19
|
Abu Mansur Muhammad al-Qahir
|
320-322 H / 932-934 M
|
20
|
Abul Abbas Ahmad ar-Radi
|
322-329 H / 934-940 M
|
21
|
Abu Ishaq Ibrahim al-Muttaqi
|
329-323 H / 940-944 M
|
22
|
Abul Qasim Abdullah al-Mustaqfi
|
323-334 H / 944-946 M
|
23
|
Abul Qasim al-fadlal-Miti’
|
334-362 H / 946-974 M
|
24
|
Abul Fadl Abdul Karim
|
362-381 H / 974-991 M
|
25
|
Abul Abbas Ahmad al-Qadir
|
381-442 H / 991-1031 M
|
26
|
Abu Ja’far Abdullah al-Qa’im
|
422-467 H / 1031-1075 M
|
27
|
Abul Qasim Abdullah al-Muqtadi
|
467-487 H / 1075-1094 M
|
28
|
Abul Abbas Ahmad al-Mustazhir
|
487-512 H / 1094-1118 M
|
29
|
Abu Mansur al-Fadl al-Mustarsyid
|
512-529 H / 1118-1135 M
|
30
|
Abu Ja’far al-Mansur al-Fadl al-Mustarsyid
|
529-530 H / 1135-1136 M
|
31
|
Abu Abdullah Muhammad al-Muqtafi
|
530-555 H / 1136-1160 M
|
32
|
Abul Muzaffar al-Mustanjid
|
555-566 H / 1160-1170 M
|
33
|
Abu Muhammad al-Hasan al-Mustadi’
|
566-575 H / 1170-1180 M
|
34
|
Abul Abbas Ahmad an-Nasir
|
575-622 H / 1180-1225 M
|
35
|
Abu Nasr Muhammad az-Zahir
|
622-623 H / 1225-1226 M
|
36
|
Abu Ja’far al-Mansur al-Muntasir
|
623-640 H / 1226-1242 M
|
37
|
Abu Ahmad Abdullah al-Musta’sim
|
640-656 H / 1242-1258 M
|
B.
Perkembangan
Dan Kemajuan Islam Masa Dinasti Abbasiyah
Pemerintahan
kekahalifahan bani abbas bertumpu pada banyakna seistem yang pernah dipraktekan
oleh bangsa-bangsa sebelumnya baik yang muslim maupun non muslim. Corak
penempatan kekuasaan tertinggi yang diberikan kepada para ulama’
memberikan kesan yang berbeda dengan
pemerintahan khulafaur rasyidin yang memeberikan kekuasaan dnegan rakyat,
sehingga disebut sistem teokrasi. Para kholifah juga memimpin agama, tidak
hanya negara. [7]
Jika
dalam dasar pemerintahan daulah abbasiyah diletakkan dan dibangun oleh abu
abbas dan abu ja’far al mansur maka puncak keemasan dinasit ini berada pada
tujuh khalifah sesudahnya, yaitu al mahdi (775-785 M), Al-hadi (775-786 M),
harun ar rasyid (786-809 M), Al ma’mun (813-833 M), Al mu’tashim (833-842 M),
Al Wsiq (842-847 M), dan Al mutawakkil (847-861 M). Pada masa al mahdi
perekonomian mulai meningkat dengan peningkatan disektor pertanian melaui
irigasi dan peningkatan hasil pertambangan, seperti perak emas tembaga dan
besi. Namun popularitas bani abbasiyah mencapai puncaknya pada masa khalifah
harun ar rasyid (786-809 M) dan putranya al makmun (813-833 M). Kekayaan yang
banyak dimanfaatkan oleh harun as rasyid untuk keperluan sosial, pendidikan,
dan kesehatan. Tingkat kemakmuran paling tinggi terwujud pada zaman khalifah
ini. Kesejahteraan sosial, kesehatan, pendidikan, kebudayaan serta kesusastraan
berada pada zaman keemasanya. Kemudian al makmun sebagai pengganti harun ar
rasyid dikenal sebagai khalifah yang sangat mencintai ilmu, hal ini dapat
dilihat pada masanya yang menggalangkan penerjemah-penerjemah buku asing, dan
juga banyak mendirikan sekolah, salah satu karyanya yang terpenting adalah
pembangunan baitul hikmah yaitu pusat penerjemahan yang berfungsi seagai
perguruan tinggi dengan perpustakaan yang besar, dan pada mas inilah baghdad
mulai menjadi pusat kebudayaan dan ilmu pnegetahuan. kemudian al musta’im
(832-842 M) yang mengadakan perubahan pada siistem ketentaraan, tentara-tentara
muslim dibinasecara khusus menjadi prajurit profesional, dengan demikian
kekuatan militer sinasti abbaisyah menjadi sangat kuat. Nmaun dalam
pemerintahan ini bnayak terjadi pemberontakan baik dari kalangan internal
maupun eksternal, namun semuanya dapat dipadamkan. Dari gambaran tersebut dapat
dilihat bahwa pemerintahan bani abbas pada periode pertama lebih menekankan
pembinaan peradaban dan kebudayaan islam dari pada perluasan wilayah. Inilah
salah satu hal yang membedakan bani umayyah dan bani abbasiyah. [8]
Pemerintahan
abbasiyah meenmpatkan baghdad sebagai ibukota negara, kemudian mnejadi pusat
kegiatan pemerintahan, salah satunya pusat kegiatan politik, sosial kebudayaan,
teruka untuk segala bangsa dan keyakinan, sehingga terkumpulah bangsa-bansga
disana, seperti arab turli, persia, romawi, qithbi, hindia, barbari, kurdi,
dll. Ilmu pengetahuan dianggap sebagai sesuatu yang snagat pentingdan mulia,
yang didukung oleh pemerintahan dengan fasilitasnya, dan juga tidka heran para
ulama’ yang mencintai ilmu, menghormati sarjana, dan memuliakan pujangga.
Kbebeasan berfikir diakui sepenuhnya, dengan membebaskan belenggu taqlid yang mneyebabkan
orang sangat leluasa mnegeluarkan pendapat.[9]
Khalifah harun merupakan pengauasa yang paling kuuat pada masanya, tidak ada
yang menyamainya dalam hal kekuasaan wilayah, kebudayaan, dan peradaaban.[10]
Kemantapan
dalam berbagai bidang, khusunya politik pada masa pemerintahan abasiyah turut
andil mempengaruhi perembangan ekonomi hingga ilmu pegetahuan, baik tentang
agama atau bukan. Seperti halnya ilmu tasawuf yang merupakan salah satu ilmu
yang tumbuh dan berkembang, dan kemudian disusul dengan lahirnya ilmu zuhud.
Zahid-zahid yang terkenal sperti hasan al bashri dan rabi’ah al adawiyah.
Kemduian pada ilmu bahasa menjadi sangat cepat berkembang, akrena pada masanya
bahas aarab menjadi bahasa internasional. Zaman keemasan islam pada masanya
saati itu jug ajuga telah melahirkan berbagai pakar ahli hukum (fiqh) yang
terbagi dalam dua lairan yaitu ahli ra’yi dan ahli hadits yang menyebabkan
pertentangan dalam hal pengambilan hukum. Kemudian hal itu menyebabkan para
ulama sibuk emmbuat kaidah-kaidah yang harus diikuti oleh para mujtahid dalam
mengambil hukum, dan ahirnya lahirlah para fuqoha ternama yang sampai saat ini
kita kenal, yaitu imam abu hanifah, imam malik, imam syafi’i, imam ahmad. Tidak
hanya itu, dalam hal ilmu aqli atau yang didasarkan kepada rasio yang
kebanyakan diterjemahkan daria bahsa asing seperti yunani, persia, imdia. Yang
termasuk ilmu ini antar lain adalah; kedokteran, kimia, filsafat, fisika, tata
negara, musik, astronomi, dan ilmu hitung. Hal ini kemduian melahirkan para
intelek muslim disegala bidang lapangan ilmu yang mampu mencengangkan mata
dunia pada islam.[11]
Daiantara
berabgai bidang yang dipelopori oleh ilmuawan muslim pada masa itu adalah :
1. Bidang
astronomi
Nama al farazi
merupakan nam apertama yang dikenla dalam islam dengan berhasil menyusun
astrolobe dan hairnya dikenal dieropa denngan nama al faragnus.
2. Bidang
kedokteran
Nama ibnu sina
dan ar razi yang mempelopori ilmu kedokteran pada masnaya, dan ibnu sina
merupakan orang yang pertama menyusun ensiklopedia ilmu kedokteran terbesar
dalam sejerah.
3. Bidang
optika
Abu ali al hasan
ibn al haytami yang dieropa dikenal dnegan nama alhazen.
4. Bidang
kimia
Terkenal nama
Jabir ibnu hayyun yangberpendapat bahwa logam seperti timah, besi da tembaga
dapat diubah menjadi emas atau perak dengan suatu zzta kimia.
5. Bidang
matematika
Nama muhammada
ibnu musa al khawarizmi yang menciptakan al jabar ang dikenal dengan
aritmatika.
6. Bidang
filsafat
Terdapat
beberapa nama dalam bidang filsuf ini diantaranya Al farabi, ibnu sina, dan
ibnu rusyd.[12]
C.
Kemunduran
Dan Kehancuran Islam Masa Dinasti Abbasiyah
Akhir
dari kekuasaan Abbasiyah ialah ketika Bagdad dihacurkan oleh pasukan Mongol
yang dipimpin oleh hulagu khan, 656/1258. Ia adalah saudra Qubilay Khan yang
berkuasa di Cina hingga ke Asia tenggara, dan saudara Mongke Khan yang
menugaskannya untuk mengembalikan wilayah-wilayah sebelah sebelah barat dari
Cina itu ke pangkuannya lagi. Bagdad dihancurkan . kahlifah bani Abbasiyah yang
terakhir dengan keluarganya, al-Musta’sim dibunuh, buku-buku yang terkumpul di
Baitul Hikmah dibakar dan dibuang disungai Tigris.[13]
Berakhirnya
kekuasaan dinasti Seljuk atas Baghdad atau dinasti abbasiyah merupakan awal
dari periode kelima. Pada periode ini, khalifah Abbasiyah tidak lagi berada di
bawah kekuasaan dinasti tertentu, walaupun banyak sekali dinasti islam berdiri.
Ada diantaranya banyak dinasti yang cukup besar, namun yang terbanyak adalah
dinasti-dinasti kecil. Para khalifah Abbasiyah sudah merdeka dan berkuasa
kembali, tetapi hanya di Bagdad dan sekitarnya. Wilayah kekuasaan khalifah yang
sempit menunjukan kelemahan politiknya.
Pada masa inilah tentara Mongol dan Tatar menyerang Bagdad. Bagdad
dihancurkan tanpa adanya perlawanan yang
berarti. Kehancuran Bagdad akibat serangan ini adalah awal babak baru dalam
sejarah islam, yang disebut dengan masa pertengahan.[14]
Kemunduran
dan kehancuran dinasti Abbasiyah dipngaruhi oleh beberapa faktor, dan faktor
tersebut saling berkaitan satu sama lain, sebagai berikut:
1.
Persaingan antar
Bangsa
Khilafah
Abbasiyah didirikan oleh bani Abbas yang bersekutu dengan orang-orang Persia.
persekutuan dilatarbelakangi oleh perasaan nasib kedua golongan itu pada masa
bani Umayyah, yaitu keduanya sama-sama tertindas. Setelah khilafah Abbasiyah
berdiri, dinasti bani Abbas tetap mempertahankan persekutuan itu. Meskipun
demikian, orang-orang persia tidak merasa puas. Mereka menginginkan sebuah
dinasti dengan raja dan pegawai dari Persia dan Turki pula. Sementara bangsa
Arab beranggapan bahwa darah yang di tubuh mereka adalah darah atau ras
istemewa dan meeka menganggap rendah bangsa non-Arab di dunia islam. Selain itu
kekuasaan Abbasiyah pada periode pertama sangat luas, meliputi: Maroko, Mesir,
Syiria, Irak, Persia, Turki dan India. Mereka disatukan dengan bangsa Semit.
Kecuali islam, pada waktu itu tidak ada kesadaran yang merajut elemen-elemen
yang bermaca-macam tersebut dengan kuat. Akibatnya disamping fanatisme
kearaban, muncul juga fanatisme bangsa-bangsa lain yang melahirkan gerakan
Syu’ubiyah. Fanatisme itu dibiarkan berkembang oleh penguasa. Sementara itu,
para khalifah menjalankan sistem perbudakan baru. Budak-budak bangsa Persia itu
dijadikan pegawai dan tentara. Sistem perbudakan ini telah mempertinggi
pengaruh bangsa Persia dan Turki dalam masa itu. Karena jumlahnya yang banyak
dan kekuatan mereka yang sangat besar, mereka merasa bahwa negara adalah milik
mereka.
Kecenderungan
masing-masing bangsa mendominasi sudah dirasakan sejak awal khalifah Abbasiyah
berdiri. Akan tetapi, karena para khalifah adalah orang-orang yang kuat yang
mampu menjaga keseimbangan kekuatan keseimbangan politik dapat terjaga. Setelah
al-Mutawakkil, seorang khalifah yang lemah, naik tahta, dominasi Turki tak
terbendung lagi. Sejak saat itulah kekuasaan bani Abbasiyah sudah berakhir.
Kekuatan berada di tangan para orang-orang Turki, posisi ini kemudian di rebut
oleh bani Buwaih, bangsa Persia, pada periode ketiga dan selanjutnya beralih ke
dinasti Seljuk pada periode ke empat.
2.
Kemerosotan
Ekonomi
Khilafah
Abbasiyah juga mengalami kemunduran dibidang ekonimi bersamaan kemunduran
dibidang politik. Setelah khilafah memasuki perode kemunduran, pendapatan
negara menurun sementara pengeluaran meningkat lebih besar. Menurunnya
pendapatan negara tersebut disebabkan oleh makin menyempitnya wilayah
kekuasaan, banyaknya terjadi kerusuhan yang mengganggu perekonomian rakyat,
diperingannya pajak, dan banyaknya dinasti-dinasti kecil yang memerdekan diri
dan tidak membayar pajak. Sedangkan pengeluaran membengkak antara lain
disebabkan oleh kehidupan para khalifah dan pejabat semakin mewah, jenis
pengeluaran makin beragam dan banyak pejabat yang korup. Kondisi politik yang
tidak stabil berpengaruh pada kondisi ekonomi
morat-marit. Sebaliknya kondisi ekonomi yang buruk memperlemah kekuatan
politik dinasti Abbasiyah, kedua faktor saling berkaitan dan tidak terpisah.
3.
Konflik
Keagamaan
Fanatisme
keagamaan sangan berkaitan erat dengan kebangsaan. Karena cita-cita orang
persia tidak tercapai, kekecewaan mendorong sebagian mereka mempropogandakan
ajaran Manuisme, Zoroasterisme, dan Mazdakisme. Munculnya gerakan yang dikenal
dengan gerakan Zindiq ini menggoda keimanan para khalifah. Al-Mansur berusaha
keras memberantasnya. Al-mahdi merasa perlu mendirikan jawatan khusus untuk
mengawasi kegiatan orang-orang Zindiq dan melakukan mihnah dengan tujuan untuk memberantas bid’ah. Dan konflik antara
orang beriman dan orang zindik terus berlanjut dari ajaran hingga sampai
konflik bersenjata yang menumpahkan darah di kedua belah pihak. Gerakan alfsyin
dan Qaramithah adalah contoh konflik bersenjata itu. Selain itu ada gerakan
Syiah yang ekstrim yang berhadapan dengan Ahlus Sunah.[15]
Konflik
yang dilatarbelakangi oleh agama tidak terbatas pada konflik antara Muslim
dengan Zindiq, Syiah dengan Ahlu Sunnah, tetapi juga antara aliran dalam islam.
Muktazilah yang cenderung rasional dituduh sebagai pembuat bid’ah oleh golongan
Salaf. Konflik antara golongan ini berlangsung pada masa khalifah ketujuh yaitu
AL-Ma’mun (813-833). Yang mana aliran muktazilah ini di jadikan sebagai mazhab
resmi negara dan melakukan mihnah.
Kemudian masa Al-Mutawakkil, Aliran Muktazilah dibatalkan sebagai mazhab resmi
negara dan golongan salaf kembali naik daun. Kemudian aliran Muktazilah bangkit
kembali pada dinasti Buwaih dan pada masa dinasti Seljuk yang menganut
assy-ariyyah yang tumbuh subur dan berjaya, menyingkirkan secara penuh golongan
Muktazilah.
4.
Ancaman dai luar
Merupakan
faktor eksternal yang menyebabkan khalifah Abbasiyah lemah dan akhirnya hancur.
Pertama, perang salib yang berlangsung beberapa gelombang atau periode dan
menelan banyak korban. Kedua, serangan tentara Mongol ke wilayah kekuasaan
islam. Sebagaimana telah disebutkan orang-orang kristen eropa terpanggil untuk
ikut berperang setelah Paus Urbanus II
(1088-1099M) mengeluarkan fatwanya. Perang salib tersebut juga membakar
semangat perlawanan orang-orang kristen yang berada diwilayah kekuasaan islam.
Namun diantara komunitas-komunitas kristen timur, hanya Armenia dan Maronit
Lebanon yang tertarik dengan perang
salib dan melibatkan diri pada tentara salib.
Pengaruh
salib juga terlibat dalam penyebuan tentara mongol. Disebutkan bahwa Hulagu
Khan, bahwa tentara mongol sangat benci islam, karena banyak dipengaruhi oleh
orang-orang Budha dan Kristen Nestorian. Gereja-gereja kristen berasosiasi
dengan orang-orang Mongol yang anti islam dan diperkeras di kantong-kantong
ahli al-kitab. Tentara mongol menhacurleburkan pusat-pusat islam dan ikut
memperbaiki yerussalam. [16]
IV.
Kesimpulan
Pengertian
harta bersama pada intinya adalah harta kekayaan yang diperoleh
V.
Penutup
Alhamdulillah
kami panjatkan kehadirat Allah SWT, yang secara tidak langsung telah membimbing
kami dalam pembuatan tulisan ini. Dan juga pemakalah sadar akan banyaknya
kekurangan dalam pembuatan tulisan ini. Untuk itu, dengan segenap kerendahan
hati, pemakalah bermaksud meminta kritik dan saran dari para pembaca, yang
tentu saja kritik dan saran yang tetap pada koridor membangun bagi sang
pemakalah, dan semoga Allah selalu senantiasa meridhoi setiap langkah kita, dan
selalu membimbing kita ke arah jalan yang benar, Aamin..
DAFTAR PUSTAKA
Abdullah, Abdul Ghani. Tt. Pengantar
Kompilasi Hukum Islam Dalam Tata Hukum Indonesia. Jakarta; Gema Insani
Pers. Cet 1.
[1] Ahmad Al-Usairy. ( Attarih Al Islamy)
Sejarah Islam; Sejak Zaman Nabi Adam Hingga Abad XX. Penj; Samson Rahman.
Jakarta; Akbar Media Eka Sarana. 2003. Hlm 212-215.
[3] Ahmad Al-Usairy. ( Attarih Al Islamy)
Sejarah Islam; Sejak Zaman Nabi Adam Hingga Abad XX. Penj; Samson Rahman.
Jakarta; Akbar Media Eka Sarana. 2003. Hlm 218.
[4] Ahmad
Al-Usairy. ( Attarih Al Islamy) Sejarah Islam; Sejak Zaman Nabi Adam Hingga
Abad XX. Penj; Samson Rahman. Jakarta; Akbar Media Eka Sarana. 2003. Hlm
215.
[5] Badri Yatim. Sejarah Peradaban Islam;
Dirasah Islamiyah II. Jakarta; PT Raja Grafindo Persada. 2003. Hlm 49-51.
[8] Badri Yatim. Sejarah Peradaban Islam;
Dirasah Islamiyah II. Jakarta; PT Raja Grafindo Persada. 2003. Hlm 53.
[9] Musyrifah Sunanto. Sejarah Islam Klasik;
Perkembangan Ilmu Pengetahuan Islam. Jakarta; Kencana. Tt. Hlm 51.
[11] Musyrifah Sunanto. Sejarah Islam Klasik;
Perkembangan Ilmu Pengetahuan Islam. Jakarta; Kencana. Tt. Hlm 57-114.
[12] Badri Yatim. Sejarah Peradaban Islam;
Dirasah Islamiyah II. Jakarta; PT Raja Grafindo Persada. 2003. Hlm 58.
[14] Badri Yatim, sejarah peradaban islam:dirasah islamiyah ii,
jakarta:PT. Raja Grafindo Persada, 2003, hal.80
0 komentar:
Post a Comment